KLH, Departemen Luar Negeri, Departemen Kehutanan, PLN, LSM, dan Bappenas. Kami sebenarnya sangat menyayangkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang tidak berpartisipasi dalam pertemuan ini. Teman-teman di ESDM terkesan menanggap enteng isu perubahan iklim, sangat berbeda dengan Departemen Kehutanan, yang secara aktif mencari peluang dalam ajang ini. (Antara)  

Penggalan paragraf diatas tercetus oleh DH menyikapi akan diusungnya isu Kehutanan dalam kancah Konferensi Iklim dunia yang dilaksanakan pada 6-17 Nopember di Nairobi. Namun sayang satu diantara Lembaga Negara enggan ikut serta, tak jelas apa alasannya namun yang pasti setiap Lembaga Negara wajib mengikuti tiap Even untuk perkembangan Negara.   Isu kehutanan masih menduduki peringkat utama untuk di sajikan pada konferensi tingkat internasional.  Bagaimana tidak, berbagai ladang emas ada di kawasan hutan dari sektor pertambangan, perizinan penggunaan lahan, aspek biodiversitas yang hendak diteliti dan didagangkan, kayu dan fauna eksotis bernilai sampai milyaran rupiah, bahakan bisa jadi ajang pencucian uang sekalipun.  Meski dugaan World Bank bahwa Hutan di Indonesia akan ludes di tahun 2010, namun tubuh seksi hutan masih jadi sorotan manusia pencari harta. Hutan yang sejatinya mempu mendongkrak kemakmuran ternyata tak juga membuahkan hasil.  Saat ini yang terjadi adalah, Hutan menjadi ladang perseteruan antara penikmat haram dengan pembela lingkungan sejati.  Entah sampai kapan ini berakhir, yang jelas perdebatan dan perseteruan itu membuat masyarakat kian muak tanpa daya untuk memilih.

“ Hutan… ada jadi rebutan, tak ada jadi tangisan… Liar dan serakah ada disana, damai dan hening pun sesungguhnya bisa diraih”