Standar UN Hantui siswa&orangtua

Uncategorized No Comments »

Terlepas dari naik atau turunnya standar kelulusan, kata Dwi, pihaknya mengimbau seluruh sekolah terus mengaktifkan program les tambahan di sekolah yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. “Untuk mengantisipasi berapa standar kelulusan UN, program les di sekolah harus diefektifkan,” pintanya. (Sumeks)

Nilai standar UN tak kunjung mantap juga, kebijakan demi kebijakan terkesan meniru dan mengikuti trend, bukan pada kondisi kemampuan siswa.  Standar UN yang katanya mampu didongkrak dengan kurikulum kompetensi ternyata belum menujukkan kabar baik.  Carut marut dunia pendidikan menjadikan guru dan pelaksana proses pendidikan berupaya dengan segala cara untuk mengejar standar UN.  Dalam penerapannya Les tambahan pun di sodorkan kepada siswa, dinilai efektiv untuk mendongkrak kemampuan namun tak pernah memihak pada kondis psikologi peserta didik.  Kebijakan Pendidikan yang sejatinya diperuntukkan untuk memberantas kebodohan dan memerangi kemiskinan justeru membuka gerbang seluas-luasnya bagi kans meningkatnya jumlah siswa putus sekolah.

“Habis Gelap Terbit Terang, itu dulu!, Pendidikan jadi ajang kreatif para kapitalis, rakyat merana, negeri menangis, sudah tak penting tuk dipikirkan, semua sibuk memperkaya diri demi hidup yang katanya lebih baik”

Jualan para kaum Oppurtunist

Belajar Menulis 1 Comment »

Pimpinan PT SBA Wood Industries, yang bergerak bidang rehabilitasi lahan eks terbakar, dan pencegahan, serta upaya penanggulangan kebakaran, menambahkan, bagi petani sonor (membuka lahan dengan cara membakar), ke depan akan dibina agar pola tersebut diubah. “Areal hutan dan lahan di pantai timur OKI setiap tahun pada musim kemarau panjang, sering terjadi kebakaran lahan dan hutan. Kebanyakan kebakaran terjadi disebabkan aktivitas manusia dalam usaha mencari penghidupan, seperti mencari kayu, ikan, serta pola bertani dengan sonor,” jelas dia.
Dijelaskanya, tahun 1997 lalu, kebakaran menyebabkan hutan menjadi kritis dan tidak produktif. Dan kebakaran hebat pada 1997 itu kembali terulang pada 2006 ini. Terkait konservasi hutan, pihaknya diberi kepercayaan oleh pemerintah melalui lelang untuk rehabilitasi areal eks terbakar tersebut. “Hingga 2006 dalam kurun waktu tiga tahun, areal yang sudah direhabilitasi seluas 74 ribu hektare, dan pada tahun mendatangkan ditargetkan 60 ribu hektare per tahun,” bebernya (Sumeks)

Aktivitas sonor merupakan kebiasaan masayrakat sejak dulu, para pihak mengetahui betul bahwa aktivitas itu sulit untuk diubah.  Masayrakat butuh solusi jelas dan menjajikan dalam jangka panjang, bukan dengan pencekokan solusi jangka pendek.  Pemberian sapi, alat pertanian dan pelatihan tanpa pembinaan tidak akan berguna tanpa pemecah persoalan jangka panjang.  Para pihak pun menyadari bahwa ini bukan hal mudah, sehingga upaya membantu masyarakat pun tak jarang hanya omong kosong belaka, program bina masyarakat kalaulah ada yang berani membongkar kebermanfaatannya bagi masyarakat, tentu tersingkap coreng-moreng kelola tanpa solusi.  Kondisi ini tentu menyeret individu oppurtunist, yang memandang ini persoalan seksi, layak dijual dan didagangkan, kembali kemiskinan dan kebiasaan masyarakat dengan embel-embel peduli lingkungan menjadi dagangan seksi pada siapa saja yang hendak membeli, ada dana ada data ada kemunafikan.

“Tak peduli masyarakat tercekik, tak peduli lingkungan terdegradasi, ganyang terus sampai ludes, toh sumberdaya alam diciptakan untuk dinikmati, soal masyarakat merintih, thats life, and it must go on, ”


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Hosted by Edublogs.
Entries RSS Comments RSS Log in