Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu peristiwa bencana yang berasal dari kesalahan pengelolaan sumberdaya hutan (Schindler et.al., 1989). Bencana itu sesungguhnya telah terjadi sejak 17.500 tahun yang lalu yang ternyata berhubungan dengan periode kemarau panjang sebagai ciri utama periode glasial kuarter (Goldammer, 1990). Awalnya bencana kebakaran hutan disebut sebagai gejala alam, namun pada akhirnya setelah diketahui dari tingginya tingkat deforestasi yang signifikan di seluruh kawasan hutan yang terbakar di Indonesia, maka disimpulkan bahwa manusia memiliki peran dalam peristiwa terjadinya kebakaran hutan terutama yang berhubungan dengan aktivitas pembalakan liar, perburuan, dan membuka lahan pertanian atau pembersihan lahan (Barber dan Schweithelm, 2000 ; Sabarudin et.al., 2002). Kebakaran hutan di Indonesia sudah terjadi sejak tahun 1878 ( Goldammer, 1996). Pada tahun 1878, seorang zoologist Denmark, Bock menjelajahi hutan dataran rendah daerah Kalimantan Timur menemukan adanya peristiwa kelaparan dan kekeringan (Goldammer, 1996). Peristiwa kekeringan itu telah mematikan sepertiga dari populasi pohon yang terdapat di hutan Muara Kaman di pedalaman Mahakam. Kekeringan kala itu tidak hanya menghanguskan populasi pohon di Kalimantan Timur namun (Grabobsky, 1890) melaporkan bahwa telah terjadi kebakaran yang menghanguskan seluruh populasi pohon di dua pegunungan yaitu di Batu Puno, Kalimantan Selatan. Pada tahun 1914-1915 kebakaran hutan kembali melanda pulau Kalimantan. Kawasan hutan terbakar tercatat dalam publikasi Sabah itu menunjukkan 80.000 ha hutan tropis dan lahan gambut hangus terbakar (Sahardjo, B.H, 2004). Kebakaran hutan terus terjadi, pada tahun 1982-1983 kembali terjadi kebakaran hutan hebat di Kalimantan Timur sebagai akibat dari penebangan liar yang membuka vegetasi dan menyebabkan perubahan iklim mikro dan memicu sensitifitas bahan bakar seperti ranting, serasah dan kayu bekas penebangan (Sahardjo, B.H, 2004). Luas kawasan hutan yang terbakar kala itu 210.000 km2 ( WRI, 2004).
Aktivitas penebangan liar menyebabkan banyaknya spesies pionir dan sekunder tumbuh pesat di kawasan yang dibalak, sehingga membentuk lapisan vegetasi bawah yang padat dan mudah terbakar daripada lapisan penutup tanah yang tidak begitu rapat ( BAPPENAS, 1999). Pada akhir tahun 1982 fenomena El-Nino menyebabkan peristiwa kebakaran hutan yang serentak terjadi pada tahun yang sama di hampir seluruh kawasan hutan Indonesia. Seluas 3,2 juta Ha hutan terbakar kala itu dan 2,7 juta Ha diantaranya adalah kawasan hutan hujan tropis (Schindler et.al., 1989). Pada tahun 1991 kebakaran hutan hebat kembali terjadi di Kalimantan dan Sumatera (UNDP, 1998). Tahun 1993-1995, kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera telah menghanguskan lebih dari 10 juta Ha kawasan hutan dan sekitar 142.000 ha adalah kawasan hutan di Sumatera Selatan. Kebakaran hutan di Sumatera Selatan kembali terjadi dan merusak seluas 786.000 ha kawasan hutan di tahun 1997/1998 (Bompard and Guizol, 1999 dalam Sabarudin, 2004).
Di Sumatera Selatan peristiwa kebakaran hutan sudah terjadi sejak hampir seratus tahun lalu. Namun pada dua dekade terakhir peristiwa kebakaran hutan menjadi fenomena rutin terjadi dan mengakibatkan dampak ekonomi dan lingkungan yang tidak hanya terjadi di dalam negeri namun juga telah mengganggu stabilitas negara tetangga (Sabarudin, 2002). Pada Tabel 1 disajikan luas kawasan bukan hutan dan kawasan hutan menurut status dan tata guna lahan yang terbakar pada tahun 1997/1998. Dari tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat dua tipe kebakaran hutan dan lahan yaitu kebakaran hutan dan lahan yang dikendalikan dan tidak dikendalikan. Kawasan bukan hutan yang terbakar mencapai 75 % dan diketahui berasal dari lahan yang digunakan untuk sawah irigasi, perladangan berpindah, sawah di kawasan rawa, pembukaan lahan di perkebunan, dan pembukaan lahan yang dilakukan perusahaan perkebunan. Dari 75% luas kawasan non hutan yang terbakar itu 54% merupakan kebakaran yang dikendalikan dan 21% kebakaran yang tidak terkendali. Kebakaran pada lahan non hutan yang tidak terkendali diketahui berasal dari pembukaan lahan untuk perkebunan skala besar, hutan sekunder, semak dan perdu, pada rumput, kawasan perkebunan skala kecil, transmigrasi dan lainnya (FFPCP, 1999).