Tahap Penelitian KSH-UMP

Managemen Penelitian No Comments »

Penelitian adalah sebuah aktivitas pendidikan yang menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa di Perguruan Tinggi. Penelitian merupakan syarat bagi mahasiswa di perguruan tinggi untuk dapat menyelesaikan studi. Berkembangnya model pembelajaran di beberapa perguruan tinggi yang juga mengikuti alur perubahan kurikulum, secara tidak langsung mempengaruhi model belajar mahasiswa.

Saat ini, mahasiswa sudah seharusnya memberikan waktu yang lebih banyak untuk memahami prosedur penelitian. Prosedur penelitian tidak hanya dimaksudkan agar penelitian berlangsung secara sistematis, tapi juga agar mahasiswa memahami persoalan dan permasalahan yang hendak di kaji dalam proses penelitian.

Persoalan mendasar yang dihadapi oleh sebagian mahasiswa adalah, tidak menguasai metode penelitian. Tidak jarang mahasiswa justeru berkutat pada “ Apa judul penelitian saya nanti?” . Ini merupakan pertanyaan awal dari beberapa mahasiswa yang baru hendak memulai penelitian skripsi. Pertanyaan tersebut, dari sudut pandang apapun adalah pertanyaan yang keliru. Seharusnya mahasiswa tidak berkutat pada judul tapi lebih kepada “penggalian permasalahan”. Penelitian di lakukan atas dasar hendak memecahkan permasalahan, mencari solusi persoalan, menguji hypothesis dan merumuskan rekomendasi akademis. Beberapa hal yang sering keliru dilakukan mahasiswa paling umum adalah :

1. Orientasi penelitian pada judul, bukan pada permasalahan
2. Selalu mencoba menghindari perhitungan statis, alias lebih menyukai penelitian bersifat deskriptif, kualitatif dan social.
3. Point 2 diatas seringkali dianggap sebagai penelitian yang mudah, padahal dalam kenyataannya tidak ada penelitian yang sulit dan mudah, tergantung alat dan instrument serta metode penelitian yang digunakan.
4. Tidak menguasai metode penelitian, sehingga langkah langkah penelitian yang dilakukan tidak sistematis dan tidak terarah.
5. Sangat jarang menguji validitas dan reliabilitas instrument penelitian yang digunakan
6. Sangat jarang mengevaluasi hasil penelitian
7. Seringkali membuat kesimpulan yang tidak bersifat akademis, padahal penelitian yang dilakukan di Perguruan Tinggi oleh mahasiswa haruslah memberikan rekomendasi akademis, bukan rekomendasi di luar lingkungan akademis, kecuali, hasil penelitian tersebut di publikasikan dalam jurnal lepas.

Tujuh kekeliruan diatas adalah kekeliruan mendasar yang paling banyak ditemukan.

Sekedar membantu mahasiswa kehutanan universitas Muhammadiyah Palembang, maka tulisan ini dibuat. Selanjutnya prosedur penelitian dapat dibaca pada bagian Management Penelitian dalam weblog ini. Managemen Penelitian akan membahas mengenai : Pra- persiapan Penelitian, Persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, pengolahan Data dan penyusunan laporan akhir penelitian.

Di jurusan Kehutanan Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan memiliki tahapan penelitian sebagai berikut :

1. Tahap Penyusunan proposal penelitian, tahap ini adalah tahap dimana mahasiswa membuat outline penelitian, serta dibwah bimbingan pembimbing skripsi melakukan kajian awal terhadap persoalan yang akan di teliti. Pada tahap ini nantinya menghasilkan Proposal Penelitian yang terdiri dari BAB 1 ( latar belakang, tujuan, rumusan masalah, dan atau hipotesis) BAB II Tinjauan Pustaka ( berisikan landasan teori yang relevan dengan rumusan masalah) BAB III ( berisikan Metodologi Penelitian, Tempat, waktu, metode pengumpulan data, metode pengolahan data, analisis data) BAB IV Penutup. Proposal penelitian ini kemudian dipresentasikan kepada maahsiswa dan dosen dalam sebuah kegiatan yang disebut Seminar Pra Penelitian atau sering disebut Diskusi.

2. Tahap pelaksanaan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian dilakukan setelah melaksanakan Seminar Pra-Proposal atau diskusi, dan memperoleh persetujuan dari Dosen Pembimbing, Dosen penilai, dengan syarat telah memperbaiki proposal penelitian pasca seminar proposal atau diskusi. Dalam melaksanakan penelitian mahasiswa langsung melakukan survai, dan pengumpulan data primer. Pengumpulan data primer biasanya dilakukan selama kurang lebih 3 bulan, sesuai dengan permsalahan yang diteliti. Setelah pengumpulan data dilakukan, mahasiswa berkonsultasi dengan pembimbing, fase pengolahan data juga dilakukan dalam proses bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi. Setelah pengolahan data, interpretasi data, maka document ini siap untuk di seminarkan kembali.

3. Tahap Seminar Hasil Penelitian, dilakukan setelah data yang dikumpulkan diolah, dan di analisis. Hasil penelitian kemudian di presentasikan melalui sebuah seminar yang disebut dengan Seminar Hasil Penelitian. Dalam seminar ini, selain dosen penguji, juga dihadiri oleh dosen penilai dan mahasiswa. Inti dari seminar hasil penelitian adalah mahasiswa harus mampu mempertahankan hasil penelitian yang telah ia lakukan berdasarkan prosedur dan pengolahan data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Setelah seminar hasil dilaksanakan, kemudian mahasiswa diberikan waktu sekurangnya 14 hari untuk memperbaiki dan membenahi hasil penelitiannya dan selanjutnya skripsi akan diuji dalam kegiatan yang disebut ujian Komprehensif.

4. Ujian Komprehensif adalah tahap akhir yang harus ditempuh oleh mahasiswa. Sebagaimana halnya pada seminar hasil, maka dalam tahap ini mahasiswa harus mampu memberikan dasar kebenaran hasil penelitian yang dilakukan sesuai dengan fakta, teory dan kesesuaian ilmu. Dalam ujian ini, selain yang berkaitan dengan penelitiannya, mahasiswa juga diuji kadar pemahaman dan pengetahuannya yang meliputi semua unsur pengetahuan yang telah ia peroleh selama kuliah dan menimba ilmu di Jurusan Kehutanan Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Setelah melewati tahap ujian Komprehensif tersebut, mahasiswa diberikan waktu 14 hari untuk memperbaiki Skripsinya. Dan setelah diperbaiki, baru di cetak sesuai standar Univ. Muhammadiyah Palembang. Tanda tangan pada halaman pengesahan haruslah tanda tangan ASLI atau BASAH bukan cetakan timbul/ fotokopi. Setelah ditanda tangani kemudian di bubuhi Stempel oleh staf administrasi Fakultas. Skripsi yang sudah sah di berikan kepada Perpustakaan Jurusan 1 exp, perpustakaan Fakultas 1 exp, Perpustakaan Universitas 1 exp, dan lebih baik jika di berikan juga pada perpustakaan Daerah Propinsi 1 exp. Tanda terima skripsi tersebut, kemudian dipergunakan untuk proses mengikuti yudisium dan wisuda.

Tulisan ini saya berikan kepada mahasiswa saya di Jurusan Kehutanan Program studi Konservasi Sumberdaya Hutan Universitas Muhammadiyah Palembang. dalam Weblog ini, akan terus dikembangkan mengenai prosedur, langkah-langkah dan metode dan managemen penelitian. Semoga bermanfaat.

Taman Nasional Sembilang

Sumatera Selatan No Comments »

Taman Nasional Sembilang (TNS) yang terletak di pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar terdiri dari hutan mangrove dengan hutan rawa air tawar dan hutan rawa gambut yang terletak di belakangnya. Hutan mangrove yang meluas hingga 35 km ke arah darat (hulu) di kawasan ini merupakan sebagian kawasan hutan mangrove terluas yang tersisa di sepanjang pantai timur pulau Sumatera.

Kawasan TN Sembilang ini didasarkan pada rekomendasi Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Surat Rekomendasi No 522/5459/BAPPEDA-IV/1998), dan SK Menteri Kehutanan pada tanggal 15 Maret 2001, No. 76/Kpts-II/2001 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera Selatan, yang didalamnya tercantum penunjukan kawasan Sembilang menjadi Taman Nasional. Hal ini telah ditindaklanjuti oleh Gubernur Provinsi Sumatera (berdasarkan surat no 522/5128/I tanggal 23 Oktober 2001), dengan meminta penetapan kawasan Taman Nasional Sembilang dengan luas 205.750 ha.

Berdasarkan Perda Provinsi Sumatera Selatan Nomor 5 tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), kawasan seluas 205.750 ha yang ditunjuk sebagai Taman Nasional ini merupakan penggabungan dari kawasan Suaka Margasatwa (SM) Terusan Dalam (29.250 ha), Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang seluas 113.173 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Sungai Terusan Dalam seluas 45.500 ha dan kawasan perairan di sekitarnya seluas 17.827 ha. Posisi geografis kawasan yang ditunjuk sebagai TN Sembilang ini terdapat pada 104011’-104094’ Timur dan 1.630-2.480 Selatan. Secara administratif pemerintahan termasuk wilayah kerja Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA), Provinsi Sumatera Selatan; sedangkan secara administratif kehutanan berada di bawah Resort Terusan Dalam dan Resort Sembilang, Sub Seksi KSDA wilayah MUBA, Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Selatan.

Kawasan TN Sembilang yang sebagian besar teridiri dari kawasan mangrove dengan banyak muara sungai dan dataran lumpur yang luas, merupakan kawasan pesisir yang subur dan kaya akan keanekaragaman hayati. Kawasan ini merupakan habitat bagi sejumlah spesies penting/terancam seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Lumba-lumba Tanpa-sirip Punggung (Neophocaena phocaenoides), Buaya Muara (Crocodylus porosus), serta lebih dari 32 spesies burung air, termasuk spesies yang status populasinya rentan (vulnerable) di dunia seperti Bangau Bluwok (Mycteria cinerea), Bangau Tontong (Leptoptilos javanicus), dan Trinil-lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus). Dataran lumpur yang luas di kawasan ini merupakan habitat persinggahan bagi ribuan burung air migran terutama pada bulan Oktober hingga April. Hutan mangrove yang ada juga merupakan habitat yang subur bagi perikanan (ikan dan udang).

Berdasarkan survei lapangan (contoh: Silvius 1986; Danielsen & Verheught 1990) yang memperlihatkan pentingnya nilai ekologi kawasan pesisir antara Banyuasin dan sungai Benu, kawasan Sembilang diusulkan menjadi kawasan Suaka Margasatwa dengan kawasan seluas 387.500 ha yang meliputi hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan mangrove, dan dataran lumpur (Danielsen dan Verheugt 1990); dan pada tanggal 12 Juli 1998, Kepala Kanwil Kehutanan Sumatera Selatan telah mengajukan surat perihal rekomendasi rencana penetapan Taman Nasional Sembilang kepada Gubernur provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan surat ini, Gubernur menyetujui rekomendasi tersebut (Surat Gubernur Provinsi Sumatera Selatan No 522/5459/Bap-10/98, tanggal 14 Desember 1998).

Luas kawasan Taman Nasional Sembilang mencakup 205.750 ha (berdasarkan RTRW Propinsi Sumatera Selatan; SK Menteri Kehutanan No 76/Kpts-II/2001, tanggal 15 Maret 2001), yang sebagian besar mencakup hutan mangrove di sekitar sungai-sungai yang bermuara di teluk Sekanak dan teluk Benawang, Pulau Betet, Pulau Alagantang, Semenanjung Banyuasin serta perairan di sekitarnya. Kawasan ini merupakan penggabungan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Terusan Dalam (29.250 ha), Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang seluas 113.173 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Sungai Terusan Dalam seluas 45.500 ha dan kawasan perairan di sekitarnya seluas 17.827 ha.

Secara geografis, kawasan yang ditunjuk sebagai Taman Nasional Sembilang berbatasan :- di sebelah Utara dengan Sungai Benu dan batas Provinsi Jambi- di sebelah Timur dengan Selat Bangka, Sungai Banyuasin- di sebelah Selatan dengan Sungai Banyuasin, Sungai Air Calik, dan Karang Agung- di sebelah Barat dengan Hutan Produksi wilayah ex HPH PT Riwayat Musi Timber dan PT. Sukses Sumatra Timber (saat ini termasuk wilayah INHUTANI V); dan juga kawasan transmigrasi (Karang Agung Tengah, Karang Agung Ilir).

Aksesibilitas
Untuk menjangkau kawasan TN Sembilang dapat ditempuh melalui jalur kapal motor (speed boat) 40PK selama ± 2 jam perjalanan dari ibukota kecamatan Banyuasin II (Sungsang) atau ± 4 jam dari ibukota provinsi Sumatera Selatan (Palembang).

Topografi
Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1013 (skala 1:250.000) yang diterbitkan dari BAKOSURTANAL, kawasan TN Sembilang memiliki topografi datar.

Geologi, Geomorfologi dan Tanah
TN Sembilang merupakan bagian dari lahan rawa yang lebih luas dengan formasi sedimen Palembang. Selama era Pleistocene, kawasan tersebut terdapat pada tepi lempeng Sunda, dan pada era Holocene kawasan tersebut digenangi air akibat naiknya temperatur bumi (dan juga naiknya muka air laut). Saat ini, kawasan tersebut ditutupi oleh tanah liat marin muda dan sedimen sungai. Sebagian besar kawasan ini didominasi oleh sedimen alluvia (termasuk sedimen marin dan sedimen organik di pesisir, dan deposit organik, biasanya sebagai kubah gambut jauh di daratan). Kubah gambut terdalam terdapat di dekat perbatasan provinsi Jambi, tepatnya di antara sungai Terusan Dalam dan Sungai Benu. Elevasi kawasan TN Sembilang berkisar antara 0 hingga 20 m dpl, dengan variasi pasang surut hingga 3,5 m (Danielsen & Verheught 1990). Tanah umumnya terdiri dari histosol (termasuk typic haplohemists, typic hydraquents, typic sulfaquents, histic sulfaquent, sodic psammaquents) dan inceptisol (termasuk sulfic endoaquepts dan typic sulfaquepts).

Iklim
Iklim tropis dengan rata-rata curah hujan pertahun sebesar 2.455 mm (1989-19 melingkupi kawasan TN Sembilang. Musim kering biasanya terjadi di bulan Mei hingga Oktober, sedangkan musim hujan dengan angin baratdaya yang kuat terjadi di bulan November hingga April. Iklim dapat dijabarkan sesuai dengan Z

ona C : 5 hingga 6 bulan berturut-turut bulan basah dan 3 bulan atau kurang berturut-turut bulan kering (Whitten et al. 2000:15, menurut Oldeman et al. 1979).

Hidrologi
Sebagian besar kawasan TN Sembilang terdiri dari habitat muara (estuarine). Sejumlah sungai-sungai kecil mengalirkan air dari rawa air tawar dan rawa gambut di daratan menuju ke pesisir. Sungai terbesar adalah Sungai Sembilang yang berukuran panjang sekitar 70 km. Sungai-sungai lain yang membentuk formasi habitat muara ini meliputi S. Benu, S. Terusan Dalam, S. Ngirawan, S. Bakorendo, dan S. Bungin.Gerakan pasang surut seringkali antara 1,6 dan 2,8 meter (Proyek Berbak-Sembilang, 2001b), bisa mencapai 3,5 meter selama pasang besar (Danielsen & Verheught 1990). Dampak pasang surut mencapai hingga jauh ke daratan, mempeng-aruhi hampir seluruh bagian kawasan konservasi. Menurut Wyrtki 1961, tipe pasang surut di sekitar Sembilang adalah terjadi pada siang hari, yaitu hanya satu terdiri dari kali pasang naik dan satu kali surut harian (tipe D).

Sumber : Rencana 25 Tahun Pengeloaan TNS WI-IP dan Depthut


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Hosted by Edublogs.
Entries RSS Comments RSS Log in