Data dan Strategi Mendapatkannya

Metodologi Penelitian 1 Comment »

Data digolongkan jadi dua yaitu

(1) Data Primer yang didapat langsung dari sumbernya. Biasanya berupa “Cross section” dan berarti data merupakan hasil pengukuran terhadap sejumlah anggota populasi pada saat tertentu secara bersamaan. Data primer dikumpulkan langsung dari sumber data. Sumber data yang diamati disebut “populasi”. Sumber data yang diukur disebut sampel atau contoh.
(2) Data sekunder diperoleh dari informasi atau data yang telah diolah dan dipublikasikan oleh orang lain. Data sekunder seringkali berupa “time series” atau data berskala artinya data tersaji menurut urutan waktu, tahun, bulan, atau bahkan minggu.
(3) Sampel atau contoh tidak bisa ditetapkan semau gue, tapi harus betul-betul mewakili populasinya. Menetapkan sebagian dari anggota populasi disebut “penarikan contoh” atau “sampling”

Variabel dan Data

Metodologi Penelitian No Comments »

Telah difahami bahwa kegiatan penelitian pada umumnya adalah kegiatan menguji hipotesis yaitu menguji kecocokan antara “hubungan teoritis yang diteorikan terhadap “fakta hubungan” di dunia nyata.

Hubungan nyata biasanya dibaca dan dipaparkan dengan lebih banyak bersandar kepada “variabel” sedangkan hubungan nyata biasanya dibaca dengan memperhatikan data tentang variabel itu.

Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) ataupun nilai mutu (kualitatif)

Variabel merupakan pengelompokan secara logis dari dua atau lebih atribut dari objek yang diteliti. Atribut itu misalnya : Tak – sekolah, Tak tamat – SD, Tak Tamat SMP. Maka variabelnya adalah tingkat pendidikan dari objek penelitian itu. Perhatian, variabel tingkat pendidikan merangkum semua atribut tadi.

Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata “vary” dan “able” yang berarti “berubah” dan “bisa”. Jadi kata variabel berarti bisa berubah. Oleh sebab itu setiap variabel dapat diberi nilai, dan nilai itu berubah-ubah. Nilai itu bisa kuntitatif (terukur dan atau terhitung dan dinyatakan dengan angka) juga bisa kualitatif. Ukuran kualitatif suatu variabel tidak lain adalah jumlah dan derajat atributnya.

Dilihat dari segi nilainya maka variabel ada yang diskrit dan adapula yang ajeg atau bersambung. Variabel diskrit nilai kuantitatifnya selalu berupa bilangan bulat misal “telur ayam” tak pernah terhitung sebagai nilai pecahan begitu juga untuk variabel “frekuensi kemacetan mesin pabrik”. Sedangkan variabel yang ajeg, nilai kuantitatifnya bisa pecahan sehingga jika diambil dua bilangan bulat yang wajar sebagai nilai variabel itu maka diantara kedua bilangan itu terdapat tak terkira banyaknya angka-angka yang mungkin menjadi nilai dari variabel yang sedang diukur itu. Ini jika digambarkan akan memberi kesan bahwa nilai-nilai variabel itu bersambung.

Data adalah hasil pengukuran atau penghitungan nilai-nilai suatu variabel. Yang dimaksud dengan pengolahan data pada prinsipnya adalah upaya penyajian dan pembacaan hubungan–hubungan yang ada antar variabel. Hubungan antar variabel dapat berupa :

(a) Hubungan simetris, yaitu
 dua variabel yang nilai-nilainya bergerak searah karena kebetulan dipengaruhi oleh suatu variabel lain yang sama.
 dua variabel kebetulan saja searah nilainya, padahal satu sama lain tak ada hubungan sama sekali.
 dua variabel kebetulan merupakan indikator dari suatu konsep pemikiran tertentu. Misal variabel berat badan dan variabel tinggi badan sebagai indikator kesejahteraan masyarakat.
 dua variabel itu bersifat komplementer misal “jumlah mandor” dan “jumlah buruh”. Komplementer artinya saling menyaratkan.
(b) Hubungan timbal balik yaitu hubungan antara variabel X dan Y dimana X–Y tapi bisa juga pada waktu tertentu Y– X.
(c) Hubungan Asimetri bisa berupa
 Hubungan Bivariat (satu variabel mempengaruhi Variabel yang lain)
 Hubugan Multivariat ( beberapa variabel mempengaruhi satu variabel lainnya)

Hubungan asimetri yang terdapat antar dua variabel seringkali sulit diinterpretasikan atau ditafsirkan karena adanya peran variabel lain yang tidak sempat dipertimbangkan. Oleh sebab itu pada hubungan asimetri bivariat seringkali dipaksa pembahasannya dengan memasukkan satu variabel baru yang bisa menerangkan kekaburan yang ada. Variabel yang ketiga itu bisa bersifat :

 Sebagai variabel penekan, biasanya bila variabel penekan itu dimasukkan sebagai variabel tadinya menjadi jelas.
 Sebagai variabel pengganggu; sifatnya mirip dengan variabel penekan. Tanpa dipertimbangkan dia akan mengaburkan hubungan yang sedang dicari antara dua variabel. Begitu dipertimbangkan, dia mampu menguraikan gejala hubungan itu lebih jelas.
 Sebagai variabel antara ( intervening Variable) variabel A semula dikira langsung mempengaruhi variabel B. Padahal ada variabel C yang mengantarai (menghubungkan) pengaruh A terhadap B.
 Sebagai Variabel anteseden (variabel latar belakang) semula dibahas A– B ; tapi penafsiran menjadi lebih jelas setelah dibaca peran variabel X yang melatarbelakangi (mendahului) peran Variabel A itu.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Hosted by Edublogs.
Entries RSS Comments RSS Log in